NUNUKAN, PuspitaNews – Warga perbatasan RI-Malaysia di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, masih memadati loket bandara. Mereka mengincar tiket arus balik Nataru yang kian menipis. Keterbatasan kursi pesawat perintis yang hanya memuat 12 orang memicu antrean panjang hingga hari ini.
Ketua Komisi 3 DPRD Nunukan, Rian Antoni, meminta pemerintah daerah segera mengeluarkan kebijakan khusus. Ia melihat warga Krayan selalu kesulitan setiap musim mudik dan balik. Masalah klasik ini menuntut solusi cepat guna memecah kebuntuan transportasi.
Mahasiswa dan Pekerja Terhambat
Keterlambatan jadwal terbang merugikan banyak pihak. Mahasiswa terancam absen kuliah, sementara para karyawan mulai kehilangan waktu kerja. Tekanan ini membuat sebagian warga meminta bantuan legislator Dapil Krayan untuk memesan tiket jalur khusus.
Rian Antoni menolak permintaan tersebut demi menjaga keadilan. Ia menilai semua penumpang memiliki urusan mendesak. Menyerobot antrean hanya akan memperkeruh suasana di lapangan.
Suntikan Dana Rp 8,6 Miliar
Kabar baik datang dari Bupati Nunukan melalui peluncuran Subsidi Ongkos Angkut (SOA) penumpang pada awal tahun. Pemerintah Kabupaten Nunukan menyiapkan anggaran Rp 8,6 miliar guna membiayai operasional maskapai Susi Air.
Program ini melayani dua rute strategis:
• Nunukan – Long Bawan (PP): 408 kali penerbangan.
• Nunukan – Binuang (PP): 104 kali penerbangan.
Rian memuji langkah cepat Bupati dalam mempercepat kontrak SOA. Kebijakan tersebut secara langsung membantu warga Krayan kembali melanjutkan studi dan pekerjaan di luar daerah.
Komitmen Pemerintah di Perbatasan
Bupati Nunukan, Irwan Sabri, memprioritaskan penerbangan Krayan karena faktor geografis. Jalur udara menjadi satu-satunya akses penghubung wilayah perbatasan ini dengan dunia luar.
Pemerintah memulai operasional SOA sejak 6 Januari 2026 dan akan terus berjalan hingga Desember mendatang. Melalui langkah ini, Irwan membuktikan kehadiran nyata negara bagi masyarakat pedalaman Krayan. (Reyna)










