NUNUKAN, PuspitaNews – Masyarakat perbatasan RI–Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sedang mengalami krisis bahan bakar. Stok BBM yang menghilang memicu keriuhan warga di hampir seluruh penjuru wilayah.
Para pengemudi ojek online serta nelayan paling merasakan dampak pahit ini. Mereka mengeluhkan keadaan tersebut melalui status dan unggahan di berbagai media sosial.
Penjual Botolan Naikkan Harga Sepihak
Seorang warga bernama Ahmad Albar mengaku kesulitan mencari bensin sejak Jumat pagi. Ia sudah berkeliling ke berbagai sudut kota, namun hanya menemukan jeriken kosong. Bahkan, para penjual bensin botolan pun kehabisan persediaan.
Kelangkaan ini menutup operasional tiga Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Nunukan. Kondisi tersebut memberi kesempatan bagi pedagang eceran untuk melambungkan harga secara drastis.
Budi, warga lainnya, terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Ia mendapatkan bensin di gang kecil seharga Rp 15.000 per botol. Harga ini melonjak jauh dari angka normal yang biasanya hanya Rp 12.000.
Kendala Docking dan Izin Kapal
Bupati Nunukan, Irwan Sabri, membeberkan penyebab utama kemacetan pasokan tersebut. Ia menyebut kapal penyuplai dari Kota Tarakan sedang menjalani perawatan tahunan atau docking.
Selain faktor teknis, kapal-kapal pengangkut harus memperpanjang izin administrasi dan dokumen bongkar muat. Momentum tahun baru mewajibkan pemilik armada memperbaharui seluruh legalitas operasional mereka. Kendala prosedur inilah yang menghambat distribusi bensin ke masyarakat.
Janji Normalisasi pada Hari Minggu
Irwan mengimbau masyarakat agar tetap sabar menunggu kiriman stok. Ia melarang keras para penjual melakukan penimbunan BBM demi meraup keuntungan pribadi. Menurutnya, tindakan memanfaatkan kesusahan orang lain sangat tidak terpuji.
Bupati memastikan kapal suplai sudah berlayar menuju dermaga Nunukan. Ia menyampaikan permohonan maaf atas gangguan pelayanan ini. Irwan menargetkan distribusi bahan bakar kembali normal paling lambat pada Minggu besok. (Reyna)










